Bagian Satu


Walau maya,
namun kau begitu pekat terasa.
WIRATAMA

Jikalau bisa,
aku ‘kan menyandang namamu sambil berkelana,
bercengkrama pada stiap makhluk tuhan betapa bangga aku dengannya.

Puluhan insan mengirim pesan padaku malam ini, namun tak sepatahpun kudapat darimu.
Aku masih menunggu hingga kelopakpun terkatup.
Aku terus mengharap, esok kau datang bertandang, entah kerumah, atau bahkan mengetuk pintu hatiku.


Aku menantikan dirimu di ruang kecil jendela jiwaku.
Bersandar bersama pada batang pohon renta.
Berbincang kecil hingga akhirnya kita terlarut dalam buai.
Dan keesokan hari kelak, kita terlelap selalu selamanya.

0 komentar:

Post a Comment